Kelompok tani penerima Program TEKAD di Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, mulai angkat suara.
Mereka mengaku kecewa dengan pelaksanaan program yang dinilai jauh dari harapan.
Salah satu anggota kelompok, Rauda, menceritakan sejak awal mereka lebih banyak bekerja sendiri di lapangan
dibanding mendapat dukungan fasilitas sebagaimana tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Menurutnya, saat pembukaan lahan, kelompok tani bahkan harus menggunakan alat tradisional karena alat pertanian belum diturunkan.
“Awalnya tong kerja manual pakai kuda-kuda karena alat belum ada. Nanti tong protes baru alat datang,” katanya kepada wartawan, Kamis (21/05).
Ia mengatakan dari dua alat yang disebutkan ada dalam RAB, kelompok tani hanya melihat satu alat pembersih lahan.
Sementara alat pembuat tumpukan tanah tidak pernah ada di lokasi.
“Untuk buat tumpukan tanah torang disuruh mencangkul sendiri. Dorang bilang anggaran sudah habis,” ujarnya.
Tak hanya soal alat, kelompok tani juga merasa banyak kebutuhan lain yang tidak dipenuhi.
Mereka mengaku hanya menerima satu unit kultivator, dua alat argo dan beberapa cangkul skop
Sedangkan item lain seperti pagar kebun, rumah bedengan hingga bak air disebut dikerjakan sendiri tanpa biaya upah.
“janga ongkos tukang, dong cuma bawa datang paku, papan dan kayu lalu suruh tong pe laki bikin sendiri,” tutur Rauda.
Kelompok tani juga menyoroti bibit rica yang jumlahnya disebut tidak sesuai.
Dalam RAB tercatat 35 pak, namun yang diterima hanya sekitar 20 pak.
Begitu juga pupuk dan aitem lainya yang diklaim mengalami pengurangan.
Yang paling membuat mereka kecewa, kebutuhan obat rumput pun di suru dibeli menggunakan uang pribadi.
“Kalau obat rumput habis, pendamping bilang suruh tong pe laki ba ojek beli sendiri,” ujarnya
Ia juga mengeluhkan minimnya pendampingan dalam pelaksanaan Program TEKAD Desa dan Kecamatan
Rauda menilai dari tiga pendamping yang ditugaskan,
hanya satu orang yang aktif turun mendampingi kegiatan kelompok tani di lapangan.
Ia berharap seluruh pendamping dapat menjalankan tugas secara maksimal, bukan hanya hadir saat ada agenda tertentu.
” Yang dua itu ibu Sri dan pak mursid cuma datang ambil dokumentasi saja,” sambungannya.
Kondisi tersebut membuat kelompok tani meminta adanya audit serta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program TEKAD di Desa Babang.
Hingga berita ini di turunkan perwakilan TEKAD kabupaten Halmahera Selatan Samsir saat di konfirmasi belum memberikan tanggapan resmi (*)








